okezoneid – Tidak banyak yang benar-benar bisa di ucapkan saat kehilangan orang tua.
Musisi Anji terlihat mendampingi prosesi pemakaman sang ibunda. Wajah-wajah yang datang—keluarga, kerabat dekat—tidak ramai bicara. Lebih banyak diam. Seperti semua orang paham, ini bukan situasi yang butuh banyak kata.
Prosesi berjalan pelan. Khidmat. Orang datang, menyalami, lalu berdiri agak jauh. Memberi ruang.
Di momen seperti itu, yang terasa justru hal-hal kecil. Tatapan. Anggukan. Kadang hanya kehadiran.
Anji sempat menyampaikan sikap keluarganya. Mereka mencoba ikhlas. Di coba, ya—bukan sesuatu yang langsung jadi. Karena kehilangan seperti ini tidak pernah sederhana.
Ada jeda antara menerima dan benar-benar merasa siap.
Kepergian orang tua selalu meninggalkan ruang yang berbeda. Bukan sekadar sedih. Lebih ke rasa yang sulit di jelaskan—seperti ada bagian hidup yang tiba-tiba hilang, tapi kita tetap harus berjalan.
Dan itu tidak bisa di percepat.
Beberapa sahabat dan kerabat juga terlihat datang. Tidak semua berbicara panjang. Ada yang hanya menepuk bahu, ada yang berdiri menemani. Dalam situasi seperti ini, hal-hal kecil justru terasa paling berarti.
Anji juga mengucapkan terima kasih atas doa yang di berikan. Sederhana, tapi terasa penting. Dukungan seperti itu, di momen kehilangan, sering jadi penopang.
Prosesi pemakaman sendiri berlangsung tanpa hambatan. Tenang. Tidak ada hal yang menonjol—dan mungkin memang itu yang di inginkan keluarga.
Setelah semua selesai, suasana biasanya berubah. Lebih sunyi. Dan justru di situ, rasa kehilangan sering terasa lebih nyata.
Tidak ada lagi keramaian. Tidak ada lagi distraksi.
Yang tersisa adalah kenangan. Dan usaha untuk menerima bahwa semuanya memang sudah berbeda sekarang.
Pelan-pelan. Tidak sekaligus.
