okezoneid – Belakangan ini, kerja dari rumah—atau WFH—sering di bicarakan lagi. Ada yang bilang efisien, ada juga yang mulai ragu. Di tengah perdebatan itu, Jusuf Kalla ikut angkat suara.

Pandangan JK cukup tegas.

Menurutnya, kalau tujuan utama WFH adalah menghemat anggaran, hasilnya belum tentu seperti yang di bayangkan. Bahkan, bisa di bilang tidak terlalu terasa.

Kenapa?

Karena biaya itu tidak benar-benar hilang. Hanya berpindah. Sebagian tetap harus di bayar—baik oleh instansi, maupun oleh individu. Listrik, internet, fasilitas kerja. Tidak semuanya bisa di tekan. Jadi kalau berharap ada penghematan besar, mungkin terlalu optimistis.

Di titik itu, ia mulai mempertanyakan: benar tidak sih WFH ini lebih efisien?

Bukan cuma soal biaya. Ada juga soal cara kerja.

JK menyinggung soal koordinasi. Menurutnya, bekerja dari kantor masih punya keunggulan di situ. Komunikasi lebih cepat, pengawasan lebih jelas. Hal-hal yang butuh diskusi langsung bisa selesai tanpa harus menunggu layar menyala atau jaringan stabil.

Kadang hal kecil seperti itu yang menentukan.

Ia juga menyoroti pentingnya interaksi tatap muka. Tidak semua bisa di gantikan oleh rapat daring. Ada nuansa yang hilang, ada respons yang tidak selalu tertangkap. Dan ketika itu terjadi, proses pengambilan keputusan bisa jadi lebih lambat.

Tidak macet, tapi tidak secepat biasanya.

Meski begitu, JK tidak sepenuhnya menolak WFH. Ia mengakui, dalam kondisi tertentu—misalnya situasi darurat—skema ini tetap relevan. Bahkan di perlukan. Tapi, kata dia, tidak bisa di samaratakan untuk semua pekerjaan.

Harus di lihat konteksnya.

Pernyataan ini muncul di saat pola kerja masih terus berubah pascapandemi. Banyak perusahaan dan instansi masih mencari bentuk yang paling pas—antara fleksibilitas dan efektivitas.

Dan mungkin, seperti yang di siratkan JK, jawabannya tidak sesederhana memilih antara kantor atau rumah.

Yang di cari sebenarnya bukan tempatnya. Tapi cara kerjanya.