okezoneid — Majelis Ulama Indonesia buka suara.
Kebijakan Israel yang melarang masuknya bantuan ke Gaza di nilai keterlaluan. MUI menyebutnya tindakan yang memperparah krisis. Tidak manusiawi.
Bantuan seharusnya bisa masuk. Apa pun yang terjadi. Itu garisnya.
Warga Gaza Bukan Bagian dari Konflik
Bagi MUI, larangan itu bukan sekadar soal politik. Tapi soal hidup orang banyak.
Anak-anak. Lansia. Mereka yang tak tahu apa-apa soal perang. Tapi jadi korban.
Akses ke air bersih, obat, makanan—semua di batasi. Situasi di sebut makin buruk dari hari ke hari.
Bantuan Kemanusiaan Tak Boleh Di blokade
“Ini bukan senjata. Ini bukan bahan perang,” kata MUI.
Yang di kirim: selimut, tenda, susu bayi.
Tapi tetap di larang masuk. Alasannya? Tak masuk akal.
MUI ingatkan, bantuan adalah hak warga sipil. Bukan hadiah. Bukan bonus. Tapi hak.
Komunitas Internasional Di minta Tak Diam
MUI tak ingin dunia tutup mata. Seruan mereka tegas. Tekanan harus datang, dari mana saja.
Diplomasi, resolusi, forum PBB, apa pun. Asal jalur bantuan dibuka. Segera.
“Ini bukan soal politik luar negeri. Ini soal nyawa,” ucap perwakilan mereka.
Posisi Indonesia Harus Jelas
MUI juga dorong pemerintah RI bersikap. Tak cukup hanya pernyataan simpati.
Butuh langkah. Pendekatan politik luar negeri yang lebih keras.
Karena nilai kemanusiaan tak bisa di kompromi.
Bantuan Tak Boleh Jadi Alat Tekanan
Dalam penutupnya, MUI tegaskan:
Bantuan harus tetap netral. Tak boleh di jadikan senjata. Tak boleh dit ahan untuk tekanan.
“Kalau ini di biarkan,” katanya, “kita semua kehilangan akal sehat.”
