okezoneid – Nama Anies Baswedan kembali jadi bahan obrolan. Bukan karena pidato, bukan pula karena manuver resmi. Kali ini karena ia hadir di acara open house yang digelar Susilo Bambang Yudhoyono.

Datangnya pun disebut tanpa undangan resmi.

Fakta itu cepat beredar. Lalu tafsir bermunculan. Ada yang melihatnya sebagai kode politik, ada yang mengaitkannya dengan dinamika koalisi, ada pula yang sekadar menganggapnya momen Lebaran biasa. Begitulah kalau dua nama besar bertemu—ruang publik selalu punya imajinasi sendiri.

Menanggapi riuh itu, Ahmad Sahroni memilih nada yang lebih datar. Menurutnya, kehadiran Anies tak perlu di baca macam-macam. “Itu silaturahmi,” kira-kira begitu pesannya. Lebaran, kata dia, memang waktunya orang datang dan bertemu. Open house sifatnya terbuka. Tidak harus selalu formal, tidak harus selalu ada kartu undangan tercetak.

Dan memang, dalam tradisi Idulfitri, pintu rumah sering kali di buka lebih lebar dari biasanya. Tokoh politik datang, mantan pejabat bersalaman, lawan lama bisa duduk satu meja. Momentum sosial. Bukan rapat strategi.

Meski begitu, spekulasi tetap berjalan. Sulit di hentikan. Publik terbiasa membaca gestur politik, bahkan dalam acara yang tampak santai. Pertemuan dua figur dengan sejarah dan pengaruh masing-masing tentu memantik rasa ingin tahu. Apalagi jika tak ada penjelasan panjang lebar dari pihak yang bersangkutan.

Anies sendiri belum memberi keterangan rinci soal alasannya hadir. Ia datang, bersalaman, mengikuti suasana open house seperti tamu lainnya. Tak ada pidato khusus. Tak ada deklarasi apa pun.

Sahroni menegaskan kembali—jangan terlalu jauh menafsirkan. Kadang pertemuan memang sekadar pertemuan. Dalam suasana Lebaran, orang bertemu karena ingin menjaga hubungan baik. Itu saja.

Di luar itu, publik tetap bebas membaca. Politik di Indonesia memang jarang sepi makna. Bahkan momen silaturahmi pun bisa terasa politis, tergantung siapa yang hadir dan siapa yang memperhatikan.