okezoneid – Kisahnya di mulai dari desas-desus promotor: bagaimana kalau oktagon di pasang tepat di halaman paling tersohor Amerika? Gagasan itu saja sudah cukup gila untuk memecah kubu di kalangan petarung—dan dua suara paling lantang datang dari Ilia Topuria serta Islam Makhachev.
Topuria—petarung berdarah Georgia-Spanyol yang gemar memanaskan mikrofon—menyebut ide tersebut “langkah pemasaran kelas dewa”. Menurutnya, menggelar pertarungan di jantung politik Washington akan menembus berita arus utama, merebut atensi penonton non-MMA, dan—kalau perlu—membuat olahraga ini “naik level seperti NFL di Super Bowl.”
Makhachev tak seantusias itu. Juara lightweight asal Dagestan justru menilai White House semestinya tetap ranah diplomasi, bukan ring adu jotos. “Ada arena ikonik lain,” ujar Makhachev lewat konferensi pers daring. “Kita tak perlu mencampur urusan sabuk juara dengan simbol kekuasaan negara.” Ia khawatir narasi politik akan mengaburkan sportivitas.
Perbedaan pendapat ini memecah timeline penggemar. Sisi pendukung Topuria membayangkan poster pertarungan berlatar kolom marmer dan bendera Amerika—clickbait global. Kubu Makhachev mengingatkan soal protokol keamanan, potensi kontroversi, hingga kemungkinan perang komentar di media sosial yang lelah polarisasi.
Pihak UFC sendiri masih diam-diam saja. Belum ada kepastian apakah proposal benar-benar di ajukan, apalagi di terima Secret Service. Sumber internal menyebut rencana itu baru “ide brainstorming” yang bocor terlalu cepat ke publik.
Satu hal pasti: bahkan sebelum oktagon di pasang, drama prapertarungan sudah bergulir. Dan seperti biasa di MMA, duel opini kadang hampir sama seru dengan duel pukul-tendang di malam pertandingan.
