okezoneid – Di paddock MotoGP, narasi itu sudah telanjur kuat: Ducati terlalu dominan. Hampir seperti tidak ada yang bisa mendekat.
Tapi Pol Espargaro melihatnya sedikit berbeda. Atau mungkin, cukup berbeda untuk memicu diskusi lagi.
Menurutnya, anggapan soal dominasi Ducati Lenovo Team saat ini terasa agak… di besar-besarkan. Bukan berarti Ducati tidak kuat—dia tidak bilang begitu. Tapi gambaran bahwa mereka “tak tersentuh” juga, kata dia, tidak sepenuhnya akurat.
Komentar itu muncul setelah satu hal yang cukup sederhana, tapi berdampak besar: start yang buruk.
Espargaro mengalaminya sendiri. Lepas start tidak mulus, posisi langsung tertekan. Dan di MotoGP, situasi seperti itu sering berujung panjang. Sulit mengejar, ritme jadi terganggu, strategi pun ikut berubah.
Di situ, katanya, banyak orang terlalu cepat menarik kesimpulan.
Ketika hasil tidak sesuai harapan, Ducati sering langsung jadi patokan pembanding. Seolah-olah kalau kalah, pasti karena mereka terlalu kuat. Padahal, menurut Espargaro, ceritanya tidak sesederhana itu.
Ada banyak variabel di lintasan.
Strategi tim. Kondisi trek. Cuaca yang kadang berubah tanpa kompromi. Belum lagi performa pembalap di hari itu—yang bisa naik turun. Semua itu saling tarik-menarik, dan sering kali lebih menentukan daripada sekadar spesifikasi motor.
Meski begitu, ia tidak menutup mata. Ducati memang punya keunggulan di beberapa sisi teknis. Itu diakui. Tapi keunggulan, kata dia, bukan berarti dominasi mutlak.
Dan mungkin di situlah poinnya.
MotoGP musim ini, kalau dilihat lebih dekat, masih cukup terbuka. Tidak selalu satu arah. Ada celah. Ada peluang. Tinggal siapa yang bisa memaksimalkannya—dan, ya, menghindari kesalahan kecil seperti start yang tidak sempurna tadi.
Untuk dirinya sendiri, Espargaro tahu apa yang harus di benahi.
Start. Hal yang terdengar sepele, tapi sering jadi pembuka cerita panjang di balapan. Kalau bagian itu bisa di perbaiki, sisanya mungkin akan terasa berbeda.
Atau setidaknya, tidak lagi terlihat seperti Ducati terlalu jauh di depan.
